• Document: ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KARET PADA INDUSTRI BAN (Studi Kasus di PT. Bridgestone Tire Indonesia, Bekasi) Oleh ELFRIDA F
  • Size: 1.42 MB
  • Uploaded: 2019-07-20 22:50:41
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KARET PADA INDUSTRI BAN (Studi Kasus di PT. Bridgestone Tire Indonesia, Bekasi) Oleh ELFRIDA F 34102002 2006 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR Elfrida. F 34102002. Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Karet pada Industri Ban (Studi Kasus PT. Bridgestone Tire Indonesia). Di bawah bimbingan Dr. Ir. Irawadi Jamaran. RINGKASAN Pada tahun 2005, perusahaan yang bergerak dalam bisnis pengolahan karet semakin berkembang. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya permintaan terhadap karet alam dan karet sintetik di pasar lokal dan internasional. Dalam hal ini PT. Bridgestone Tire Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha pengolahan karet menjadi produk ban. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan sistem pengendalian persediaan bahan baku di PT. Bridgestone Tire Indonesia, menentukan model penentuan kebijakan pengendalian bahan dalam rangka menjaga kelancaran produksi serta mengetahui tingkat efisiensi metode yang digunakan oleh perusahaan dibandingkan dengan metode simulasi dalam hal penghematan biaya persediaan bahan baku. Terdapat delapan bahan baku utama yang digunakan oleh PT. Bridgestone Tire Indonesia dalam memproduksi ban. Pada dasarnya setiap jenis bahan baku memerlukan pengendalian persediaan, namun penelitian diprioritaskan pada pengendalian bahan baku karet yaitu karet alam dan karet sintetis. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah pemakaian bahan baku PT. Bridgestone Tire Indonesia selama tahun 2005 untuk bahan baku karet alam 2.599.145,167 kg per bulan dan karet sintetis 1.956.776,083 kg per bulan. Selain itu diperoleh pula penerimaan bahan baku pada PT. Bridgestone Tire Indonesia selama tahun 2005 untuk bahan baku karet alam 2.605.109,75 kg per bulan dan karet sintetis 2.044.690,5 kg per bulan. Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam mengendalikan persediaan bahan baku. Metode Material Requirements Planning (MRP) dengan teknik Part Period Balancing (PPB) dijadikan prioritas dalam pengendalian persediaan bahan baku karet alam, sedangkan teknik Economic Order Quantity (EOQ) dijadikan prioritas dalam pengendalian persediaan bahan baku karet sintetis karena menghasilkan biaya persediaan yang lebih sedikit. Teknik Lot for Lot (LFL) tidak sesuai dengan kebijaksanaan perusahaan dan resiko kekurangan bahan baku juga lebih besar sehingga tidak dijadikan prioritas. Simulasi dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Quantitative System Business (QSB). Model yang dipilih sebagai alternatif bagi perusahaan adalah model sistem Continuous Review Fixed Order Quantity (s,Q) dan Continuous Review Order Up to (s,S). Berdasarkan hasil simulasi yang dilakukan, maka model yang memberikan total persediaan paling minimum adalah model sistem Continuous Review Fixed Order Quantity (s,Q) untuk pengendalian persediaan bahan baku karet alam dan karet sintetis jika semua komponen biaya tetap seperti sistem saat ini. Nilai titik pemesanan kembali dari model ini untuk bahan baku karet alam adalah 699.868,2 kg dengan jumlah pemesanan sebanyak 243.804,6 kg dan frekuensi sebanyak 127 kali dalam setahun. Proses simulasi dilakukan selama 12 bulan dan menghasilkan total biaya persediaan rata-rata setiap bulannya sebesar Rp. 1.301.524,00. Nilai titik pemesanan kembali dari model ini untuk bahan baku karet sintetis adalah 4.110.000 kg dengan jumlah pemesanan sebanyak 2.170.000 kg dengan frekuensi pemesanan sebanyak 10 kali. Proses simulasi dilakukan selama 12 bulan dan menghasilkan total biaya persediaan rata-rata setiap bulannya sebesar Rp. 86.970.880,00. Persediaan pengaman yang dihasilkan dari simulasi ini dihitung dengan service level 99 persen. Persediaan pengaman untuk bahan baku karet alam adalah sebesar 180.039,1 kg, sedangkan persediaan pengaman untuk bahan baku karet sintetis adalah sebesar 194.519,8 kg. Kombinasi antara pemesanan optimum dan titik pemesanan kembali menghasilkan total biaya persediaan. Dari hasil perhitungan total biaya persediaan dapat disimpulkan bahwa metode simulasi lebih efisien dibandingkan metode perusahaan. Hasil simulasi ini menunjukkan adanya penghematan yang terjadi yaitu sebesar Rp. 16.974.254,58 untuk karet alam dan Rp. 1.989.474.608,00 untuk karet sintetis. Hasil uji T-student untuk data penerimaan bahan baku karet alam adalah sebesar 0,23 pada tingkat kepercayaan 95% berada dalam selang (-1,65.1,645). Maka model simulasi untuk penerimaan bahan baku karet alam adalah valid. Hasil uji T-student untuk data penerimaan bahan baku karet sintetis adalah sebesar -1.33 pada tingkat kepercayaan 95% berada dalam selang (-1,65.1,645). Maka model simulasi untuk penerimaan bahan baku karet sintetis adalah valid. Analisis sensitivitas harus dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kepekaan

Recently converted files (publicly available):