• Document: Peramalan Nilai Tukar Rupiah; Pendekatan ARIMA
  • Size: 880.9 KB
  • Uploaded: 2019-07-21 03:06:00
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

Peramalan Nilai Tukar Rupiah; Pendekatan ARIMA Oleh: Eko Kusmurtanto'" Abstract This paper apply ARIMA (Autoregressive Integrated Moving Average) model to forecast the Indonesia's exchange rates over the period of 2000-2006. Any technique to define the ordo for the estimation, are tramo/seats, correlation of correlogram, and trial and error. Accuracy verify the result of estimation on ARIMA (2,1,1). Forecasting is undertaken (n t~e case of the exchange rates between rupiah and USdollar. Key words: Nilai Tukar, ARIMA, Stasioneritas, Ordo, Tramo/seats. .••Dosen Tetap STEKPI http://www.univpancasila.ac.id 7/31 Peramalan Nilai Tukar Rupiah; Pendekatan ARIMA LATAR BELAKANG sampai saat ini volatilitas nilai tukar (exchange rateS) rupiah masih menjadi topik bahasan yang menarik, terutama setelah dilanda krisis nilai tukar pada tahun 1997. Bahasan tersebut menjadi sangat diperlukan jika suatu pihak yang berkepentingan akan menggunakan nilai tukar sebagai sarana transaksi atau investasi. Meskipun belakangan ini rupiah sudah menunjukkan arah yang makin stabil namun bukan berarti kita tidak membutuhkan prediksi (foreci1sf). saat ini rupiah berada dikisaran Rp. 9.200,- per dolar Amerika. Gambar 1. Volatilitas Nilai Tukar Rupiah Rp/$US ~ :~~~ iii':':':""""""'' ".,.,., ..... 12000 10000 8000 6000 4000 2000 o.•... :2 <D Ol <D Waktu Ol .•... :2 (")N o o N 0 :2 :2 LO <D N ~ o 0 o 0 N N Sumber : International Financial Statistics 5ebelum sistem nilai tukar rupiah diambangkan (free floating exchange rate system) pada bulan Agustus tahun 1997, rupiah menggunakan sistem mengambang terkendali (managed floating exchange rate system) meski sistem mengambang sudah diperkenalkan sejak tahun 1973 pada konferensi Bretton-Woods. 5eperti yang terlihat pada gambar 1. diatas, rupiah sangat volatil setelah pemerintah menggunakan sistem mengambang bebas. Fluktuasi rupiah pada pertengahan tahun 1998 memasuki kisaran Rp. 15000,- per dolar Amerika, namun f1uktuasitersebut semakin mengarah stabil pada tahun-tahun berikutnya yaitu pada kisaran Rp. 9.000,- an. Depresiasi nilai tukar rupiah yang sangat tajam tersebut membawa dampak yang sangat buruk. 5eperti banyaknya perusahaan yang terpaksa harus menutup usaha karena mereka harus menanggung beban dalam membayar kredit valuta asingnya (misal kredit dalam dolar Amerika). Dimana kesepakatan kredit tersebut dilakukan pada era sebelum adanya krisis yaitu nilai tukar rupiah hanya pada kisaran Rp 2.200,- per dolar Amerika. Multiplier yang dihasilkan dari krisis nilai tukar tersebut tidak pada arah positif, namun justru negatif. Artinya dampak krisis tersebut membawa rentetan yang memburuk terhadap perekonomian secara nasional. 5ebagai gambaran, jika perusahaan yang gulung tikar semakin banyak maka akan berpotensi meningkatkan intensitas pengangguran, akibatnya permintaan atau daya beli masyarakat berkurang, margin atas produk ada tapi tidak bisa menutup biaya operasional dan administrasi perusahaan (total cost) karena kuantitas penjualan menurun, pemerintah tidak ada pendapatan (pajak), negara kekurangan dana untuk pembangunan, dan seterusnya sehingga perekonomian memburuk. Hal ini dapat diistilahkan sebagai l

Recently converted files (publicly available):