• Document: BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG JAMINAN FIDUSIA. Kebutuhan akan adanya lembaga jaminan, telah muncul sejak zaman romawi.
  • Size: 111.5 KB
  • Uploaded: 2019-05-18 02:37:40
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

1 1 22 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG JAMINAN FIDUSIA 1.1 Sejarah Jaminan Fidusia a. Zaman Romawi Kebutuhan akan adanya lembaga jaminan, telah muncul sejak zaman romawi. Bagi masyarakat pada saat itu, fidusia adalah satu-satunya lembaga jaminan yang dapat mereka pergunakan dalam melakukan kegiatan perdagangan ataupun usaha para petani. Fidusia pada zaman romawi dikenal dengan 2 (dua) nama, yaitu : a. Fiducia Cum Creditore Contracta Fiducia Cum Creditore Contracta adalah suatu janji kepercayaan yang dibuat antara debitur dengan kreditur,yang mana diadakan pengalihan kepemilikan benda jaminan ke pihak kreditur sebagai agunan hutang debitur, dengan syarat kreditur akan langsung mengembalikan agunan tersebut setelah debitur melunasi seluruh nominal hutangnya. Fidusia jenis inilah yang paling sering digunakan masyarakat romawi dalam kegiatan perdagangan serta usaha para petani. 1 Walaupun fiducia cum creditore contracta dianggap dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Romawi akan lembaga jaminan, namun fidusia ini memiliki kelemahan yaitu : 1 H. Tan Kamelo, 2006, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan, Cet I, PT. Alumni, Bandung, h. 65. 22 23 dikarenakan sistem yang digunakan masih berdasarkan kepercayaan dari debitur kepada kreditur saja. 2 Dalam hal ini debitur percaya bahwa kreditur tidak akan melakukan perbuatan yang merugikan debitur terhadap barang jaminan tersebut. Namun, apabila kreditur adalah pihak yang tidak dapat menjaga kepercayaan dengan baik, maka debitur pun tidak dapat berbuat apa-apa, karena belum ada hukum tertulis secara jelas yang mengatur fidusia serta pelanggaran-pelanggarannya. b. Fiducia Cum Amico Contracta Fiducia Cum Amico Contracta adalah suatu janji berdasarkan kepercayaan yang dibuat antara seseorang dengan seorang teman atau orang yang dipercayainya, untuk menitipkan suatu barang atau benda berharga miliknya, dalam hal pemberi titipan tersebut harus bepergian keluar daerah, dengan catatan sekembalinya pemberi titipan dari luar daerah, penerima titipan harus mengembalikan benda titipan seutuhnya. Seiring perkembangan kehidupan masyarakat, berkembanglah lembaga gadai serta hipotek yang mampu mengalahkan popularitas fidusia sebagai lembaga jaminan. Hal ini dikarenakan gadai dan hipotek sudah ada hukum tertulis yang mengatur sehingga dianggap terjamin adanya kepastian hukum. Adapun latar belakang sejarah yang menunjukkan bahwa pengikatan jaminan dengan lembaga gadai tidak efektif, adalah sebagai berikut : Kebutuhan akan hukum jaminan mulai berkembang ke negara-negara Eropa. Pada suatu masa diakhir abad ke-19 terjadi krisis yang dialami oleh para pengusaha pertanian, yaitu suatu keadaan dimana tanaman-tanaman 2 H. Tan Kamelo, ibid. 24 yang mereka olah setiap harinya mendapat serangan hama. Hal tersebut menyebakan para petani memerlukan banyak dana untuk tetap dapat memulihkan pengoperasian kegiatan pertaniaannya. Solusi yang didapat adalah dengan berkredit pada bank untuk memperoleh dana. Tetapi, bank sebagai kreditur saat itu mensyaratkan jaminannya dengan hipotek yaitu tanah dengan hak milik, sementara tidak banyak petani yang memilik tanah dengan hak milik, syarat kedua adalah para petani disyaratkan untuk menggadaikan alat-alat pertanian mereka pada bank. Kedua syarat tersebut tidak memberikan solusi bagi petani untuk berhasil memperoleh dana justru, para petani tidak mampu mengoperasionalkan pekerjaannya tanpa alat-alat pertanian yang dimilikinya.Walaupun seandainya dilakukan gadai yang tidak dengan penyerahan agunan, tetap tidak boleh karena hal itu melanggar Pasal 1152 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. 3 Selanjutnya, sempat dilakukan suatu perjanjian dimana debitur menjual benda jaminannya kepada kreditur yang kemudian, dalam jangka waktu beberapa saat debitur membeli kembali benda jaminan yang dijual tersebut agar debitur tetap dapat menggunakan benda tersebut, jadi debitur dalam keadaan ini dapat disebut sebagai peminjam pakai. Solusi lain dalam penanganan krisis tersebut adalah dengan dibuatnya lembaga jaminan Oogstverband yang artinya adalah suatu hak kebendaan atas hasil-hasil pertanian yang belum dipetik atau sudah beserta perusahaan serta peralatan yang digunakan untuk pengolahan hasil pertanian itu, untuk jaminan agar supaya dipenuhi perjanjian untuk menyerahkan produk-produk itu kepada pemberi uang untuk dijual dalam komisi dengan tujuan membayar uang-uang persekot, bunga-bunga, ongkos-ongkos dan uang provisi dari hasil penjualan. 4 Dal

Recently converted files (publicly available):