• Document: ONCOBIOME, INTERAKSI ANTARA MIKROBIOME YANG MEMICU PERKEMBANGAN KANKER PADA INANGNYA LAILA KAROMAH NRP. G
  • Size: 345.24 KB
  • Uploaded: 2019-03-14 08:45:37
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

ONCOBIOME, INTERAKSI ANTARA MIKROBIOME YANG MEMICU PERKEMBANGAN KANKER PADA INANGNYA LAILA KAROMAH NRP. G351150231 SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2015 MENGENAL ONCOBIOME, INTERAKSI ANTARA MIKROBIOME YANG MEMICU PERKEMBANGAN KANKER PADA INANGNYA Seluruh makhluk hidup multiseluler, termasuk manusia merupakan habitat bagi beberapa komunitas mikrobiota seperi bakteri, cendawan, protozoa dan beberapa jenis virus (Mueller dan Sachs 2015). Mikrob-mikrob tersebut mampu tumbuh dan berkembang secara baik pada jaringan-jaringan yang dapat diakses oleh mereka dan melakukan hubungan timbal balik baik antar komunitas maupun dengan inangnya, hingga mikroorganisme asosiat, materi genetik dan senyawa yang mereka sekresikan, membentuk bioma yang disebut mikrobioma dengan lingkungan tempat mereka hidup (Thomas dan Jobin 2015). Gambar 1 Konsep dan pengertian microbiome dihasilkan dari profiling mikrobiota dalam tubuh inang, identifikasi gen-gen tertentu, dan senyawa yang dihasilkan oleh mikrobiota tersebut dan apa dampaknya pada tubuh makhluk hidup Mikrobioma dalam tubuh manusia dapat berinteraksi membentuk hubungan komensalisme, mutualisme, dan pathobion. Mikrobioma juga memiliki aktivitas krusial dalam kegiatan biologis manusia seperti berperan dalam perkembangan organ manusia, fisiologi, sistem pertahanan dan produksi beberapa jenis toksin yang mampu menyebabkan penyakit (Dickson dan Huffnagle 2015). Beberapa mikrobiota anggota mikrobioma tubuh manusia yang bersifat patogen (pathobion) seperti beberapa jenis virus dan bakteri dicurigai mampu memicu perkembangan kanker dalam jaringan sehat via mutasi genetik (Thomas dan Jobin 2015), contohnya adalah beberapa jenis virus seperi Human Papiloma Virus yang memicu kanker serviks. Sedangkan beberapa bakteri, seperi yang dipostulatkan oleh Virchow, mampu memicu kanker dengan memproduksi beberapa toksin yang mampu memicu inflamasi, kerusakan sel bahkan stress oksidatif (Schwabe dan Jobin 2013). Stress oksidatif ini, seperti yang dijelaskan oleh Hardbower et al. (2013), mampu mengakibatkan kerusakan DNA yang memicu perkembangan jaringan kanker atau karsinogenesis. Keterlibatan mikrobioma manusia dengan perkembangan kanker ini banyak menarik perhatian ilmuwan dewasa ini disebut Oncobiome. Selain keterlibatan mikrobioma dalam perkembangan kanker, perubahan kesetimbangan profil mikrobiota dalam tubuh saat kanker menyerang juga menjadi fokus kajian dari interaksi antara mikrobioma manusia dengan jaringan kanker. Efek Modulasi Kanker Oleh Mikrobiota Dalam Tubuh Mikrobiota normal dan inangnya bersama-sama mengalami evolusi menjadi organisme super yang salung menguntungkan satu sama lain dengan banyak cara, misalnya melalui saling membantu dalam memperoleh dan memetabolsme nutrisi atau membantu perkembangan beberapa sistem organ. Hubungan antara keduanya yang sangat dekat ternyata juga beresiko memicu berkembangnya penyakit dan jaringan kanker dalam tubuh (Schwabe dan Jobin, 2013). Karena statusnya yang belum jelas, ilmuwan berusaha mencari bukti dengan mengamati interaksi antara jaringan inang dengan mikrobiome pada proses perkembangan kanker (Schwabe dan Jobin, 2015). Jenis kanker yang dijadikan model untuk mempelajari bagaimana mikrobiome dalam tubuh mampu menginduksi kanker adalah kanker pada saluran pencernaan seperti kolorektal yang menyerang kolon (usus besar), dengan alasan kolon memiliki jumlah dan diversitas mikroorganisme terbesar dalam tubuh manusia, yakni sekitar 1012 sel/g (Walter dan Ley, 2011). Proses perkembangan kanker termodulasi mikrobiome unumnya didahului oleh inflamasi yang diakibatkan senyawa pro-inflamator dan imunosupresan dipicu oleh keberadaan mikroorganisme tertentu (Thomas dan Jobin, 2015). Pada kasus kanker lambung yang disebabkan oleh bakteri Heliobacter pylori, karsinogenesis dipicu oleh aktivasi beberapa faktor virulen yakni CagA (gen terasosiasi sitotoksin), VacA (vacuolating cytotoxin A), enzim urease, dan NapA (protein aktivatot neutrofil A) yang mengakibatkan stress oksidatif, inflamasi jaringan kronis dan kerusakan DNA pada jaringan lambung yang parah (Hardbower et al. 2013). Proses perkembangan kanker (karsinogenesis) kolorektal yang juga disebabkan oleh inflamasi jaringan inang, yakni jaringan epitelium kolon yang dipicu oleh dikenalinya molekul marker pada perrmukaan sel bakteri Gram negatif yakni microorganism-associated molecular patterns (MAMPs). Kompleks antara MAMPs dan reseptor permukaan sel inang diantaranya kelompok resepto rTLR (Toll-like receptors) dan NLR pada sel khusus yakni akan memicu serangkaian transduksi sinyal yang mengaktifkan karsinogenesis dengan mengaktifkan ekspresi gen yang bertanggung jawab dalam produksi pro- inflamator, proliferasi sel, memicu kerusakan sel dan menghambat proses apoptosis sel yang rusak tersebut (Mogensen 2009; Thomas dan Jobin 2015). Dari

Recently converted files (publicly available):