• Document: PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PESERTA DIDIK KELAS V SDN 2 PURWOSARI BABADAN PONOROGO TAHUN PELAJARAN
  • Size: 52.78 KB
  • Uploaded: 2019-05-18 03:13:26
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PESERTA DIDIK KELAS V SDN 2 PURWOSARI BABADAN PONOROGO TAHUN PELAJARAN 2013 – 2014 Sugiani Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi realitas kualitas proses dan hasil pembelajaran keterampilan berbicara peserta didik kelas V SDN 2 Purwosari yang masih rendah. Guru kurang inovatif dan kreatif untuk mengembangkan metode pembelajaran serta peserta didik yang kurang antusias karena tanggapan dan kegugupan untuk mengajukan pertanyaan yang disampaikan. Oleh karena itu dalam pembelajara berbicara di SDN 2 Purwosari perlu diterapkan suatu metode yang efektif untuk mengatasi problem praktis dalam pembelajaran tersebut, metode praktis itu adalah metode bermain peran peserta didik kelas V SDN 2 Purwosari Babadan dirancang dalam sebuah penelitian tindakan kelas. Rancangan penelitian tindakan kelas ini meliputi (1) Perencanaan RPP, (2) Pelaksanaan Pembelajaran, (3) Observasi, (4) Refleksi. Data penelitian diperoleh dari analisis dan respon peserta didik pada saat proses dan hasil pemeranan, pengumpulan data melalui catatan lapangan, observasi, instrumen dan rekaman. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan dengan metode bermain peran proses pembelajaran pada siklus I mencapai 64%, meningkat menjadi 78%, pada siklus II dan pada hasil belajar peserta didik mencapai 68% pada siklus I meningkat menjadi 80% pada siklus II. Kata Kunci : Peningkatan, Keterampilan Berbicara, Bermain Peran Berbicara merupakan kegiatan dari seorang pemakai bahasa yang berbahasa yang paling dominan dalam menuntut prakarsa nyata dalam penggunaan bahasa. Berbicara penggunaan bahasa untuk dipandang oleh pengguna bahasa mengungkapkan diri secara lisan. Oleh sebagai sarana penting untuk sebab itu, kemampuan berbicara pemenuhan kebutuhan berkomunikasi, menuntut penguasaan terhadap aspek bersosialisasi dan lain-lain. Sehubungan dan kaidah penggunaan bahasa, dengan itu, Burns dan Joyce (dalam misalnya kaidah kebahasaan dan urutan Tarigan 2009 : 18) mengemukakan isi pesan. bahwa berbicara merupakan aktivitas Kemampuan berbicara dapat berbahasa yang sangat penting sehingga ditingkatkan melalui pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bahasa. Pelaksanaan pembelajaran manusia sehari-hari. Akan tetapi di bahasa Indonesia di sekolah dasar, dalam aktivitas berbicara, bahasa yang khususnya pembelajaran keterampilan digunakan, baik dalam komunikasi berbicara dapat diintegrasikan dengan formal maupun dalam komunikasi keterampilan bahasa yang lain, yaitu nonformal. Berbicara merupakan keterampilan menyimak, membaca, dan kegiatan berbahasa yang aktif produktif menulis. Melalui pembelajaran yang NOSI Volume 2, Nomor 5, Agustus 2014___________________________________Halaman | 413 terintegrasi tersebut, peserta didik telah ditentukan. Hal ini disebabkan oleh diharapkan memiliki kemampuan untuk berbagai hal, yaitu (1) rendahnya respon menyampaikan pesan atau informasi peserta didik terhadap penjelasan, dengan menggunakan bahasa yang pernyataan, atau segala informasi yang singkat dan jelas. Harapan ini seiring disampaikan guru sewaktu pembelajaran dengan tujuan yang diharapkan tercapai berlangsung, (2) rendahnya inisiatif selama dan sesudah pembelajaran peserta didik untuk bertanya dan bahasa Indonesia berlangsung, yakni mengemukakan pendapatnya sewaktu agar peserta didik memiliki kemampuan pembelajaran berlangsung, (3) berbahasa Indonesia dengan baik dan kurangnya antusias peserta didik saat benar. Kemampuan yang telah dimiliki pembelajaran berlangsung, dan (4) ini diharapkan berfungsi untuk adanya kegagapan dan kegugupan untuk mengembangkan penalaran, mengajukan pendapat / mengajukan berkomunikasi, mengungkapkan pikiran pertanyaan pada saat tampil berbicara di dan perasaan, serta membina persatuan depan kelas (di depan umum). dan kesatuan bangsa (Depdiknas: 2004). Rendahnya motivasi peserta didik Hal itu, senada dengan yang dalam pembelajaran berbicara diungkapkan oleh Suparno (2001), menyebabkan peserta didik mengalami bahwa pembelajaran bahasa Indonesia kesulitan dalam pembelajaran berbicara. diarahkan untuk membentuk kompetensi Kesulitan tersebut terjadi pada tahap komunikasi, yakni kemampuan persiapan berbicara maupun tahap menggunakan b

Recently converted files (publicly available):