• Document: ANALISIS MODEL TAYLOR RULE DALAM PENERAPAN INFLATION TARGETING FRAMEWORK DI INDONESIA
  • Size: 498.72 KB
  • Uploaded: 2019-03-14 07:03:53
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

ANALISIS MODEL TAYLOR RULE DALAM PENERAPAN INFLATION TARGETING FRAMEWORK DI INDONESIA JURNAL ILMIAH Disusun oleh : Devy Annisa Arisandy 125020401111016 JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2016 Analisis Model Taylor Rule dalam Penerapan Inflation Targeting Framework di Indonesia Devy Annisa Arisandy Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya Email: devyannisa9@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh jangka pendek dan jangka panjang model Taylor Rule di Indonesia. Indonesia sebagai negara penganut Inflation Targeting Framework (ITF) menggunakan BI Rate sebagai instrumen kebijakan utama untuk dapat mencapai sasaran akhir kebijakan moneter berupa kestabilan harga (inflasi). Penelitian ini menggunakan metode Error Correction Model (ECM) dengan menggunakan pendekatan Taylor Rule. Dalam pendekatan ini, inflasi dan output sebagai faktor penentu besaran suku bunga. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa inflation gap berpengaruh dalam penetapan suku bunga acuan (BI Rate) dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Namun, output gap hanya berpengaruh dalam jangka panjang saja. Sehingga perlu ada kebijakan dalam mengontrol laju inflasi melalui instrument kebijakan utamanya yaitu suku bunga (BI Rate) agar target inflasi dapat tercapai. Kata Kunci : Taylor Rule, BI Rate, Inflasi, Output A. PENDAHULUAN Kebijakan moneter Bank Sentral sebelum krisis mempergunakan piranti uang primer sebagai jangkar kebijakan moneter untuk mencapai stabilitas inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta stabilitas neraca pembayaran. Fakta menunjukkan bahwa penggunaan jangkar uang primer seringkali tidak sejalan dengan sasaran akhir pencapaian suku bunga perbankan yang diharapkan, sehingga tujuan akhir yang ingin dicapai dari pengelolaan uang primer tersebut tidak sepenuhnya dapat mencapai sasaran pembentukan nilai suku bunga yang diinginkan. Undang-undang No.23 Tahun 1999 mengamanatkan kepada Bank Indonesia untuk mencapai dan menjaga kestabilan nilai Rupiah (single objective). Untuk mencapai mandat tersebut Bank Indonesia menggunakan Inflation Targeting Framework (ITF) sebagai kerangka kebijakan moneter. Kerangka kerja ini diterapkan secara formal sejak Juli 2005, setelah sebelumnya menggunakan kebijakan moneter yang menerapkan uang primer (base money) sebagai sasaran kebijakan moneter. Kerangka ITF ini dicirikan dengan penetapan target inflasi yang diumumkan kepada publik dan inflasi merupakan tujuan utama kebijakan moneter. Implementasi ITF di Indonesia menekankan pentingnya pengendalian ekspektasi inflasi agar terjangkar ke target inflasi jangka panjang yang rendah dan stabil (low and stable inflation) sekitar 3% agar kompetitif dengan Negara lain. Untuk mencapai sasaran inflasi, kebijakan moneter dilakukan secara forward looking, artinya perubahan stance kebijakan moneter dilakukan melaui evaluasi apakah perkembangan inflasi ke depan masih sesuai dengan sasaran inflasi yang telah dicanangkan. Secara operasional, stance kebijakan moneter dicerminkan oleh penetapan suku bunga kebijakan (BI Rate) yang diharapkan akan mempengaruhi suku bunga pasar uang dan suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan. Perubahan suku bunga ini pada akhirnya akan memengaruhi output dan inflasi. Strategi kebijakan pengendalian inflasi yang dijalankan Bank Indonesia adalah dengan menetapkan penargetan pada inflasi dengan rentang ± 1 %. Strategi kebijakan ini diarahkan untuk mencapai kestabilan inflasi pada jangka panjang dengan tetap memberikan ruang gerak pada pada inflasi dengan pengaturan jangka pendek. Penargetan inflasi dilakukan dengan tujuan untuk mengarahkan ekspektasi dan menjadi acuan bagi pelaku ekonomi dalam melaksanakan aktifitasnya kedepan, sehingga pergerakan inflasi dapat diarahkan menuju arah yang telah ditetapkan. Dalam hal analisis terhadap pilihan suatu kebijakan moneter beberapa studi telah dilakukan. Salah satunya adalah studi tentang penggunaan tingkat bunga sebagai instrumen kebijakan moneter. Model ini dikenal dengan Taylor Rule, yang diperkenalkan pertama kali oleh Taylor pada tahun 1993, pada saat pengaturan tingkat suku bunga direkomendasikan Taylor kepada bank sentral Amerika Serikat. Model ini menjelaskan seberapa besar tingkat bunga yang harus ditetapkan agar inflasi dapat dikendalikan sehingga mencapai target inflasi (dalam kerangka inflation targeting). Beberapa penelitian yang menggunakan model Taylor Rule telah dilakukan, diantaranya di Canada, Swedia dan Jerman. Hasil temuan para ahli ekonomi dunia menyatakan bahwa kebijakan moneter telah memberikan kontribusi yang besar terhadap bank sentral dalam mencapai tujuan dan sasaran untuk kestabilan perekonomian. Sedangkan d

Recently converted files (publicly available):