• Document: MENGGAMBAR WAYANG BALI (SEBUAH TEKNIK MEMPERMUDAH BELAJAR MENGGAMBAR WAYANG BALI)
  • Size: 3.4 MB
  • Uploaded: 2019-05-17 01:40:00
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

1     MENGGAMBAR WAYANG BALI (SEBUAH TEKNIK MEMPERMUDAH BELAJAR MENGGAMBAR WAYANG BALI) Oleh : I Gusti Ngurah Agung Jaya CK, SSN. M.Si. NIP.196880516 199802 1 001 Abstrak Ilmu pengetahuan adalah pengalaman yang dilakukan oleh manusia secara tahap demi tahap, dan dilakukan setiap hari, sehingga menjadi kebiasaan atau rutinitas, yang melahirkan pengalaman dan memudahkan untuk selalu menciptakan sesuatu yang baru, sesuai dengan proses yang telah dilaluinya. Pengetahuan merupakan pengalaman yang dilakukan, sehingga menghasilkan karya-karya seni yang mendunia, dimana para pencipta seni ini, dengan semangat dan pantang menyerah, melakukan rutinitas setiap hari untuk menghasilkan karya-karya yang adihulung. Makin sering Seniman itu melatih pengetahuannya, maka hasilnya juga sangat memuaskan bahkan bisa menemukan hal-hal yang baru dalam proses menciptakan karya seni. Kata Kunci: Ilmu Pengetahuan, Proses, Hasil. abstract Science is done by human experience step by step , and they do it every day, so it becomes a habit or routine , which gave birth to a new experience and makes it easy to always create something new, according to the process that has been through . Knowledge is an experience that have done, so as to produce world works of art, where the creators of this art , with a spirit and unyielding, do a routine every day to produce works that of the best. The more often those artists train their knowledge, so the result could even be satisfied and it even can discover new things in the process of creating a work of art. Keywords : Knowledge, Process, Result A. Sejarah Berkembangnya Seni Lukis Wayang di Bali Bila kita amati perjalan sejarah seni lukis wayang Bali, maka akan diawali dengan asal mula manusia purba, dalam perjalanannya banyak ditemukan bukti-bukti peninggalan berupa keahlian nenek moyang kita melukis didinding-dingding goa. Di Bali peninggalan gambar lukisan digoa-goa belum ada diketemukan, tetapi gambar-gambar yang terdapat pada sebuah nekara dan relief dinding ada ditemukan seperti Di pura Nekara pejeng dan relief yeh pulu dan goa gajah. Adanya peninggalan ini membuktikan bahwa karya seni yang berkembang di Bali sudah ada sejak jaman dahulu dan masih berkembang sampai saat ini (Gung Tjidera, 1995: 11). Melihat perkembanganya, sekarang seni lukis wayang Bali , diakui kebedaradanya sejak jaman pra-sejarah. Buktinya banyak ditemukan pada gedong kuno penuh hiasan (Nekara) yang berada dipejeng. Nekara berbentuk genderang yang bagian pinggirnya berhiasakan ragam hias yang berkembang saat itu (Neka Museum, 1986: 8). Pada jaman raja-raja di Bali, Kerajaan yang terkenal pada saat itu adalah Pemerintahan Ugrasena (818 Icaka/ 896 Masehi). Hal ini dibuktikan pada prasasti “Prabhwayang” pada pemerintahan Raja Anak Wungssu (1045- 1047) disebut “Aringgit” (Goris, 1954: 3). Kedua Istilah itu berarti “Wayamg”, merupakan perkembangan lanjutan dari gambar dan relief yang berkembang sebelumnya. Dalam kitab Insulinda karangan Dr Setyabudi, wayang Bali diperkirakan sudah berkembang pada jaman Raja Sidodana (tahun 518-630 masehi). Hal ini disebutkan pula pada prasasti Bebetin 2     dalam Buku Parasasti Bali satu oleh Dr Relof Goris, turunan prasasti Bebetin halaman 44-45 berbunyi seperti ini. “... Pande tembaga, pemukul, pegendeng, pabunying, papadaha, parbhangci, pertapukan, parbhwayang... turun di Panglapuran di Singamandawa, di bulan besakga caka pancami, rggas bwijaya manggala, di caka 818...”. Artinya sebagai berikut “ pande tembaga, pemukul gambelan, penyayi, pemukul bunyi-bunyian dari bambu, pemukul kendang, peniup seruling, penari topeng, dalang wayang... turun dipanglipuran di singamandawa, pada bulan 10, hari ke 5, patorang, hari pasar wijaya manggala, pada tahun 818 caka...” ( Callenfels, 1926: 12).. Pada sat itulah diperkirakan seni lukis Bali telah ada. Kemungkinan sudah ada gambar wayang sebagai media sosial budaya dan sudah dikonsepkan dalam bentuk wayang kulit. Selain itu dalam babad Dalem di Desa Gelgel, Sri Dalem Semara Kepakisan, pernah pergi ke Majapahit dan pulang membawa hadiah dari Keraton Majapahit, berupa keris Bengawan Canggu, ikat pinggang Sebuh Jagat dan sekeropak wayang kulit(Musium Bali, 1989: 13). Pada Abad 14 Pemerintahan di Bali, pindah dari Samprangan ke Gegel, kesenian wayang semakin mendapat pembinaan dan mengalami perkembangan. Runtuhnya Keraton Gelgel ke tangan I Gusti Agung Maruthi dari Kekuasaan Dalem Dimade, membangkitkan semangat putra-putranya untuk merebut kembali Keraton Gelgel. Setelah kekuasaan di pegang oleh Dewa Agung Jambe, pusat pemerintahan di pindahkan ke Semarapura Klungku

Recently converted files (publicly available):