• Document: BAB V DESAIN TULANGAN ELEMEN GEDUNG. Berdasarkan hasil analisis struktur dual system didapat nilai gaya geser setiap
  • Size: 1.84 MB
  • Uploaded: 2018-11-28 05:41:25
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

Bab V Desain Tulangan Elemen Gedung BAB V DESAIN TULANGAN ELEMEN GEDUNG 5.1 Umum Berdasarkan hasil analisis struktur dual system didapat nilai gaya geser setiap tingkat dari analisis gempa dinamik dan analisis gempa statik ekuivalen, Vstatik > Vdinamik. Sehingga analisa dapat dilakukan dengan menggunakan data gempa statik ekuivalen. Di bawah ini digambarkan perbandingan antara gaya geser gempa Dinamik, 0,8Vstatik dan Vstatik. Gambar 5.1 Gaya geser tingkat akibat gempa dinamik dan statik arah X Garis merah merupakan gaya geser akibat beban gempa dinamik, sedangkan garis biru gaya geser akibat beban gempa statik ekuivalen. Berdasarkan SNI 03-1726- V–1 Bab V Desain Tulangan Elemen Gedung 2002 Pasal A.7.2.4, bahwa desain selanjutnya didasarkan pada beban-beban gempa statik ekuivalen, yang bila perlu dimodifikasi terlebih dahulu secara konservatif. 0,8𝑉𝑠𝑡𝑎𝑡𝑖𝑘 𝑥 𝐶𝑄𝐶(𝑑𝑖𝑠𝑎𝑖𝑛) 𝑉𝑑𝑖𝑛𝑎𝑚𝑖𝑘 Dimana : CQC = Complete Quadratic Combination (Kombinasi Kuadratik Lengkap) Vstatik = Gaya geser akibat beban gempa statik ekuivalen Vdinamik = Gaya geser akibat gempa dinamik 5.2 Penulangan Pelat Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada Pasal 2.8.1 Bab II, untuk mendesain penulangan pelat dibutuhkan momen lentur untuk menentukan besarnya kebutuhan tulangan. Oleh karena itu terlebih dahulu perlu diketahui data-data pembebanan yang bekerja pada pelat. 5.2.1 Pembebanan Lantai 2 s/d 21 a. Beban mati pelat lantai (12 cm) = 0,12 x 24 = 2,88 kN/m2 plafond = 0,18 kN/m2 M/E = 0,15 kN/m2 spesi (4 cm) = 0,04 x 21 = 0,84 kN/m2 tegel keramik = 0,24 kN/m2 + WD = 4,29 kN/m2 b. Beban hidup (WL) = 2,5 kN/m2 c. Beban ultimate ( WU) V-2 Bab V Desain Tulangan Elemen Gedung WU = (1,2 x WD) + (1,6 x WL ) = (1,2 x 4,29) + (1,6 x 2,5) = 9,15 kN/m2 5.2.1.A Desain Penulangan Pelat Lantai 2 s/d 21 Penulangan diasumsikan dua arah, asumsi diameter tulangan pelat 10 mm Dimensi balok : 3,6m b = 1000 mm h = 120 mm 4,8m cover = 25 mm dsx = cover + D/2 = 25 + 10/2 = 30 mm dsy = dsx + D = 30 + 10 = 40 mm dx = h – dsx = 120 – 30 = 90 mm dy = h – dsy = 120 – 40 = 80 mm 𝐿𝑥 4,8 = = 1,2 𝐿𝑦 3,6 Pelat yang ditinjau pada setiap sisinya merupakan tipe lantai tumpuan terjepit penuh. Momen ultimit pelat dihitung pada area tumpuan maupun lapangan di masing-masing arah X dan Y. Perhitungan menggunakan persamaan Lx/Ly dan bantuan tabel 2.4 Pelat umum. Dari tabel CUR 4 hal. 26 diperoleh : V-3 Bab V Desain Tulangan Elemen Gedung Perhitungan Momen per meter lebar : mlx = 0,001 wu lx2 x = 0,001 x 9,15 x 4,82 x 34 = 7,17 kNm mly = 0,001 wu lx2 x = 0,001 x 9,15 x 4,82 x 22 = 4,64 kNm mtx = -0,001 wu lx2 x = -0,001 x 9,15 x 4,82 x 63 = -13,28 kNm mty = -0,001 wu lx2 x = -0,001 x 9,15 x 4,,82 x 54 = -11,38 kNm Momen ultimit pelat lantai untuk area tumpuan dan lapangan arah X dan Y lantai 2 s/d lantai 21: a) Momen lapangan arah X 𝑀𝑢 7,17 Mu = 7,17 kN. m  2 = = 8,85 kN/m2 𝑏𝑑 1 𝑥 0,92 b) Momen lapangan arah Y 𝑀𝑢 4,64 Mu = 4,64 kN. m  2 = = 7,25 kN/m2 𝑏𝑑 1 𝑥 0,82 c) Momen tumpuan arah X 𝑀𝑢 −13,28 Mu = −13,28 kN. m  2 = = −16,4 kN/m2 𝑏𝑑 1 𝑥 0,92 d) Momen tumpuan arah Y 𝑀𝑢 −11,38 Mu = −11,38 kN. m  2 = = −17,78 kN/m2 𝑏𝑑 1 𝑥 0,82 Dari CUR 4 untuk fy = 400 Mpa dan fc’ = 30 Mpa dengan ø = 0,8 didapat nilai ρ sebagai berikut : Tabel 5.1 Tulangan pelat lantai 2 s/d 21 As = ρ.b.d Tulangan yg Ke

Recently converted files (publicly available):