• Document: BAB III DASAR PERANCANGAN INSTALASI AIR CONDITIONING
  • Size: 484.3 KB
  • Uploaded: 2019-07-21 05:47:30
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

BAB III DASAR PERANCANGAN INSTALASI AIR CONDITIONING 3.1 Perngertian dan Standar Pengkondisian Udara Bangunan Pengkondisian udara adalah suatu usaha ang dilakukan untuk mengolah udara dengan cara mendinginkan, mengeringkan atau bahkan membersihkan udara suatu ruangan agar mencapai kondisi nyaman. Ruangan dengan kondisi yang Nyaman sangat di butuhkan penghuni di dalamnya untuk melakukan suatu aktivitas. Peningkatan produktivitas kerja dapat dicapai apabila lingkungan kerja disekitarnya nyaman dan kondusif. Kondisi perencanaan dalam merancang sistem pengkondisian udara telah di atur di dalam standar nasional Indonesia. Berdasarkan SNI 6390:2011 untuk memenuhi kenyamanan termal pengguna bangunan kondisi perancanaan gedung di wilayah dataran rendah dengan tempratur udara maksimum rata rata sekitar 34°C DB dan 27°C WB ditetapkan bahwa perencanaan kondisi ruang kerja bertemperatur bola kering berkisal antara 24°C hingga 27°C ± 1,5°C dengan kelembaban 65% ± 10% . Untuk dapat mencapai kondisi nyaman ruangan kerja sesuai standar tersebut maka dibutuhkan suatu sistem pengkondisian udara. Perancangan sistem pengkondisian udara didasarkan pada estimasi beban pendingin ruangan, sehingga udara diperoleh sistem pengkondidian udara yang paling sesuai dengan kondisi ruangan tersebut. Estimasi beban pendingin yang harus dilakukan karena adanya perubahan kondisi udara di luar gedung yang terus-menerus berubah sepanjang hari. Pengertian dari beban pendingin adalah laju pengambilan energi panas oleh mesin pendingin dari udara didalam ruangan. Fungsi dari pengambilan energi panas tersebut adalah untuk menjaga temperatur dan kelembaban udara didalam ruangan agar tetap berada didalam kisaran kondisi yang didinginkan. Untuk melakukan estimasi beban pendinginan gedung pada perancangan ini, di gunakan software cooling load estimation Trace® 700 version 6.2.5.1 yang berbasis pada Laporan Kerja Praktek 9 metode CLTD (Cooling Load Temperature Difference)/CLF (Cooling Load Factor) . 3.2 Siklus Pendingin Kompresi Uap Siklus pendingin kompresor uap adalah satu siklus perpindahan energi yang diterapkan pada sebuah mesin pendingin. Mesin pendingin yang menerapkan siklus pendingin kompresi uap pada umumnya banyak di gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu keuntungan menggunakan siklus kompresi uap adalah tidak membutuhkan tempat yang relatif besar karena bentuk dan ukurannya yang kompak. Komponen utama yang terdapat pada siklus ini yaitu kompresor, kondensor, evaporator dan alat ekspansi. Pada gambar 3.1 berikut dapat dilihat skema sederhana . Gambar 3.1. skema peralatan pada siklus mesin pendingin kompresor uap Penjelasan dari proses siklus pendingin kompresi uap adalah sebagai berikut. Pada proses (1-2), fluida kerja berupa refrigeran memasuki kompresor sehingga tekanan uap refrigeran akan naik dengan naiknya temperatur uap refrigeran tersebut. Pada proses (2-3), uap refrigeran akan masuk kedalam kondensor untuk didinginkan dan terjadilah proses perubahan fasa refrigeran dari uap menjadi cairan. Proses pendinginan tersebut terjadi akibat adanya pertukaran panas antara uap refrigeran dengan fluida pendingin biasanya berupa udara sekitar atau air pendingin. Pada proses (3-4), refrigeran yang sudah berbentuk fasa cair masuk ke alat ekspansi, di dalam alat ekspansi tersebut tekanan refrigeran di turunkan, sehingga saat refrigeran keluar dari alat ekspansi refrigeran berfasa campuran cair dan uap, proses Laporan Kerja Praktek 10 berlangsung pada entalphi konstan. Pada proses (4-1), terjadi proses penguapan refrigeran. Proses penguapan ini terjadi karena adanya pertukaran panas antara refrigeran dengan fluida yang didinginkan. Pada saat keluar dari evaporator refrigeran akan berfasa uap jenuh. Proses selanjutnya refrigeran akan masuk kembali menuju kompresor, dan begitu seterusnya. Diagram P-H dari siklus pendingin kompresor uap pada sebuah mesin pendingin di tunjukan pada Gambar 3.2. Pada diagram tersebut terdapat garis putus- putus yang menunjukan proses standar dari siklus kompresi uap, dan garis penuh menunjukkan proses aktual yang berlangsung. Perbedaannya pada siklus aktual terjadi penurunan tekanan pada peralatan evaporator dan kondensor, serta terjadi kenaikan entropi pada kompresor. Gambar 3.2. diagram P-h siklus pendingin kompresi uap ideal dan aktual Untuk menentukan prestasi dari sebuah mesin pendingin dapat di tentukan dari nilai Coefficient Of Performance (COP) atau dengan nilai Energy Efficiency Ratio (EER). Nilai COP adalah perbandingan antara besar laju perpindahan panas yang terjadi di evaporator (Qev) dibandingkan dengan laju kerja yang di butuhkan kompresor (Wk) seperti yang di tunjukkan pada Persamaan (3.1). dan nilai EER adalah perbandingan laju perpindahan pa

Recently converted files (publicly available):