• Document: BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Praktik Kebersihan Gigi Mulut pada Lansia
  • Size: 156.46 KB
  • Uploaded: 2019-03-14 03:22:22
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Praktik Kebersihan Gigi Mulut pada Lansia 1. Praktik Praktik dapat diartikan sebagai suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulasi) dari luar objek tersebut. Respons manusia tersebut dapat bersifat pasif yang meliputi pengetahuan, persepsi dan sikap, sedangkan yang bersifat aktif merupakan tindakan yang nyata atau practice. Stimulus atau rangsangan terdiri dari 4 unsur pokok yakni sakit dan penyakit, system pelayanan kesehatan dan lingkungan (Notoatmodjo, 2003). Terbentuknya praktik terutama pada orang dewasa dimulai pada domain kognitif (pengetahuan) dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa objek diluarnya, sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut dan selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap subjek terhadap objek yang diketahui. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dan sikap merupakan respon seseorang terhadap stimulus atau rangsangan yang masih bersifat terselubung dan sering disebut convert behaviour (Notoatmodjo, 2007). Pengetahuan dan sikap merupakan faktor yang sangat penting untuk terbentuknya praktik. Secara terperinci praktik manusia sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan, seperti pengetahuan, dukungan, fasilitas, keinginan, kehendak, minat, motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003). 7 8 Sunaryo (2004) menyatakan bahwa praktik memiliki tingkatan- tingkatan yaitu a. Persepsi Mengenal dan memilih berbagai objek sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan. b. Respon terpimpin Individu dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh. c. Mekanisme Individu dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sudah menjadi kebiasaan. d. Adaptasi Suatu tindakan yang sudah berkembang dan dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran. Pengukuran praktik dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan responden (Notoatmojo,2007). 2. Kebersihan gigi dan mulut lansia Higiene perorangan adalah cara perawatan diri manusia untuk memelihara kesehatan mereka (Potter, 2006). Kegiatan yang dilakukan individu untuk memelihara kesehatan diri disebut personal higiene (Alimul Hidayat, 2006). Yang dimaksud higiene gigi dan mulut adalah cara perawatan diri individu untuk memelihara kesehatan gigi dan mulut. Gigi dan mulut adalah bagian penting yang harus dipertahankan kebersihannya, sebab melalui organ ini berbagai kuman dapat masuk (Alimul Hidayat, 2006). Gigi normal terdiri dari tiga bagian yaitu 9 kepala, leher dan akar. Gigi yang sehat tampak putih, halus, bercahaya, dan berjajar rapi (Potter, 2006). Rongga mulut dilapisi oleh membran mukosa. Membran merupakan jaringan epitel yang melapisi dan melindungi organ, mensekresi mukus untuk menjaga jalan saluran sistem pencernaan basah dan terminyaki, dan mengabsorbsi nutrien. Mukosa mulut secara normal berwarna merah muda terang dan basah (Potter, 2006). Kebersihan mulut dan gigi pada lansia harus tetap dijaga dengan menyikat gigi dan kumur-kumur secara teratur meskipun sudah ompong. Bagi lansia yang memiliki gigi agak lengkap dapat menyikat giginya sendiri dua kali sehari pada pagi dan malam sebelum tidur, termasuk bagian gusi dan bila ada gigi berlobang dan ada endapan warna kuning sampai cokelat sebaiknya segera ke puskesmas (Hardywinoto, 2005). Menggosok gigi akan membersihkan gigi dari partikel-partikel makanan, plak, dan bakteri, juga memasase gusi dan mengurangi ketidaknyamanan yang dihasilkan dari bau dan rasa yang tidak nyaman. Higiene mulut membantu mempertahankan status kesehatan mulut, gigi, gusi dan bibir selanjutnya dapat menstimulus nafsu makan (Potter, 2006). Adapun cara menggosok gigi pada lansia sebagai berikut (Nugroho, 2008). Alat-alat: a. Sikat gigi (oleskan pasta gigi secukupnya di atas sikat gigi). b. Air bersih dalam gelas untuk kumur. c. Baskom plastik berukuran sedang untuk membuang air kumur. d. Handuk untuk alas di dada biar tidak basah dan untuk membersihkan mulut setelah selesai sikat gigi. 10 Cara: a. Alat (baskom, sikat gigi, pasta gigi, dan handuk) diletakkan di atas meja kecil atau korsi didekat tempat tidur. b. Usahakan duduk dengan posisi yang nyaman. Bila tidak dapat duduk, usahakan untuk dapat duduk setengah miring dengan cara menunggikan bantal untuk menehan punggungnya. c. Handuk direnta

Recently converted files (publicly available):